Kamis, 28 Mei 2009

SENI DAN AJARAN PENIDIKAN DIBALIK LAGU TANDUK MAJENG


Indonesia adalah Negara kepulauan dimana pulau-pulau terbentang dari sabang sampai merauke, tidak terkecuali Pulau Madura. Pulau Madura ibarat kata “Madunya Nusantara”, yang manis-manis dan yang bermanfaat tentunya ada di pulauku tercinta tersebut. Saya sebagai generasi penerus bangsa terutama putri Madura tentunya harus mengetahui segala sesuatu yang terkait dengan madunya Nusantara ini, mulai dari kebudayaan, makanan khas, sampai adat istiadat.
Zaman sekarang serba modern dan perkembangan teknologi pun sangat pesat, termasuk di dunia permusikan. Remaja sekarang pasti tahu dan paham betul dengan lirik “Pernahkah kau merasa…, hatimu hampa ??. Pernahkah kau merasa hatimu kosong !!.” Tidak usah diberi tahu pasti masyarakat Indonesia telah mengerti kalau lirik lagu itu di populerkan oleh Ungu dengan sentuhan dangdut dan R n’ B. Mungkin untuk masalah lagu-lagu seperti itu merupakan hal yang mudah dan sangat di gandrungi masyarakat Indonesia. Tapi kalau lagu daerah seperti Yamko Rambe Yamko, Potong Bebek, Meyong-Meyong, dan tanduk majeng mungkin masih terasa asing ditelinga masyarakat Indonesia, terutama remaja-remaja Indonesia.
Saya sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Madura ingin memperkenalkan kepada seluruh masyarakat Indonesia lagu tanduk majeng itu sendiri dan mengingatkan teman-teman saya yang sepulau untuk mengembangkan lagu tanduk majeng. Berikut ini adalah lirik lagu dari tanduk majeng, kita bisa belajar bersama dan mengerti maksud dari lagu ini

Tanduk Majeng


Ngapote Wak Lajereh e tangaleh,


Reng Majeng Tantona lah pade mole

Mon e tengguh Deri abid pajelennah,

Mase benyak’ah onggu leollenah

Duuh… mon ajelling Odiknah oreng majengan,

Abental ombek Asapok angin salanjenggah


Ole…olang,
Paraonah alajereh,
Ole…olang,
Alajereh ka Madureh…


Reng majeng bennya’ ongggu bebejenena,
Kabileng alako bendhe nyabenah.

Ole…olang,

Paraonah alajereh,
Ole…olang,
Alajereh ka Madureh…

Yang translasi Indonesianya secara kasar bisa ditulis:



Cula nelayan (kegigihan/kekuatan nelayang)

layar sudah mulai terlihat/(layar)putihnya mulai kelihatan (dari jauh kelihatan seperti benda putih),
Orang nelayan (pencari ikan) tentulah sudah pada pulang

Kalau di lihat dari lamanya perjalanan,
Tentu hasil ikannya sangat banyak…

Duuh kalau dilihat hidupnya orang pencari ikan (nelayan),
Berbantal ombak berselimut angin selamanya (sepanjang malam)

Ole… olang,
perahunya mau berlayar,
Ole… olang,
berlayar ke madura…

Nelayan banyak sekali hambatannya (resiko)
Terbilang bekerja bermodalkan nyawanya

Ole… olang,

perahunya mau berlayar,
Ole… olang,
berlayar ke madura…

Secara filosofis, lagu ini merupakan kiasan yang bermakna bahwa perjuangan orang madura (nenek moyang saya dulu) yang mayoritas nelayan, tidak peduli malam-malam, terik matahari, musim hujan, musim kemarau, angin kencang, dan ombak yg besar, mereka terus berjuang menangkap ikan untuk menghidupi keluarga mereka meskipun nyawa taruhannya. Dari hal tersebut kita dapat mengetahui bahwa lagu yang indah ternyata juga memiliki makna yang mendalam dan pelajaran yang tak ternilai harganya. Akhir kata, saya mengajak kawan-kawanku sekalian, dimana kita sebagai generasi muda juga harus melestarikan lagu daerah kita karena kita dilahirkan dan dibesarkan di daerah.

Daftar Pustaka :

6 komentar:

  1. wwwwwwwaaaaaaaaawwww......!!!!
    gila.. keren bnget.
    ni yg aku cari,...
    thanks yaaa...!!!
    salam hangat " nak kannak madhureh "

    BalasHapus
  2. satu sisi yang turut luput dalam hingar bingar pembangunan... Madunya Nusantara: Madura...

    BalasHapus
  3. Luar biasa. Salam deri Pontianak

    BalasHapus
  4. Great, ini baru namanya "paraben madhure".
    thanks ya lirik dan ilmunya

    BalasHapus
  5. Loha.. klarifikasi Bos! itu lagu bukan tanduk majeng bos tapi ole olang. Yo opo to yo yo...

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus